Prestasi Tim Sapu Angin ITS Surabaya sebelum Berangkat ke Kejuaraan Dunia

Discussion in 'Surabaya' started by yan raditya, 29 Jun 2016.

  1. yan raditya

    yan raditya IndoForum Addict E

    No. Urut:
    163658
    Joined:
    31 Jan 2012
    Messages:
    24.461
    Likes Received:
    72
    Trophy Points:
    48
    Location:
    indonesia
    [​IMG]
    Mobil irit Sapu Angin ITS Surabaya sudah meraih 6 kali juara ajang mobil irit Shell Eco Marathon kelas Urban Concept Diesel tingkat Asia dari 2010-2016.

    Atas prestasi tersebut, tahun 2016 Sapu Angin dikirim ke kejuaraan Shell World Championship pada ajang Drivers World Championship (DWC) di London, Inggris.

    "Sapu Angin mulai ikut sejak kejuaraan tahun 2010 di Malaysia dan meraih juara tiga kali berturut-turut hingga tahun 2012," kata Bambang Pramujati, Ketua Jurusan Teknik Mesin ITS, 28 Juni 2016.
    Pada 2013 kejuaraan tersebut dibatalkan karena adanya dampak asap dari Indonesia di Malaysia dan diganti dengan kompetisi off track. Tim Sapu Angin juga meraih juara Tribology Award pada 2013.
    "Kejuaraan dilanjutkan pada 2014 di Malaysia, 2015 dan 2016 di Filipina, dan Sapu Angin meraih juara pada kejuaraan tersebut," katanya.

    Baru tahun ini tim Sapu Angin sebagai salah satu dari 5 perwakilan Asia dikirim ke kejuaraan dunia dengan sistem lomba balapan dengan pembatasan bahan bakar.

    Dari 20 orang tim Sapu Angin, mereka terbagi-bagi untuk mengikuti kompetisi yang berbeda-beda. Untuk kejuaraan Shell Eco Marathon World Championship, hanya 7 orang dari tim Sapu Angin yang berangkat ke London dengan manajer tim, Rizkiardi Wilis Prakoso, mahasiswa semester 8 Jurusan Teknik Mesin ITS.

    Sampai saat ini, Sapu Angin sudah generasi ke-11. Dengan material carbon fiber pada bodi mobil, Sapu Angin menjadi lebih ringan dari sebelumnya puluhan kg menjadi hanya sekitar 7 kg dan mampu melaju antara 240-249,8 km/L di kompetisi Shell Eco Marathon Asia 2016 dan mengantarkan mereka menjadi juara.
    "Tidak banyak yang diubah dari generasi-generasi sebelumnya, kami mengubah pada segi desain, bodi, roda, rantai, sistem transmisi, dengan mesin yang tetap sama," jelas Vristanto, anggota tim Sapu Angin bagian non teknis, di kampus ITS.

    Pada kompetisi Shell Eco Marathon Asia 2016 lalu, Ketua tim sapu angin, Rizkiardi Wilis Prakoso, menjelaskan adanya kendala yang mereka alami ketika ban yang mereka gunakan dianggap tidak sesuai dengan ketentuan lomba.

    "Masalahnya pada alur kembangan ban. Seharusnya ban memiliki kedalaman alur 1,6 mm. Ban kami kembangannya kurang dari itu dan tidak sampai tengah," jelas mahasiswa yang akrab disapa Wilis itu.
    Saat itu, mobil sapu angin baru menyelesaikan balapan kedua pada Sabtu (5/3/2016) pagi.

    "Setelah dinyatakan tidak sesuai, hasil balapan kedua kami tidak keluar dan hasil pertama juga ikut dianulir," tambahnya. Tim mereka sempat putus asa sebelum mengganti ban dengan ban serep yang dibawa.
    "Kami cuma bawa dua ban serep, sisanya dua ban lain pinjam dari tim cakrawala dari ITB," imbuh mahasiswa Teknik Mesin itu.

    Sayangnya, musibah kebakaran terjadi pada mobil Tim Sapu Angin ketika sampai di London, Inggris sebelum kompetisi berlangsung.

Share This Page


Pasang iklan disini dapat menyebabkan produk dikenal, omzet naik, keuntungan bertambah, good investment dan brand image. Contact Us untuk memulai.

JAKARTA | BANDUNG | PEKANBARU | SURABAYA | SEMARANG